Menu Utama
 
 
Pengumuman
 
 
Anda Pengunjung ke :
010498

 
07 September 2010
Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30
 

Rabu, 19 Mei 2010 - 11:35:39 WIB
JUJUR DALAM UJIAN NASIONAL
Diposting oleh : - Dibaca: 100 kali



JUJUR DALAM UJIAN
NASIONAL


Oleh: Mas'udi, S.Fil.I., M.A.

Master Antropologi UGM

Dosen Jurusan Dakwah



Program Studi Bimbingan
dan Penyuluhan
Islam



STAIN Kudus

Sejak awal kenabian, melalui wahyu pertama yang
diterimanya (iqra') yang termaktub dalam QS. al-'Alaq, [95]:1-5, Nabi
Muhammad Saw. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk membaca semua realitas; alam,
manusia, dan Tuhan sendiri dengan sebaik-baik pembacaan. Di atas kondisi
dirinya yang (ummi) tidak dapat membaca dan menulis, Nabi Muhammad Saw.
berjuang untuk menalar kemudian mengungkap hakikat yang ditemukannya dalam
seantero kehidupan manusia. Kandungan QS. al-'Alaq sebagai wahyu pertama yang
diterima, diderivasikan untuk melihat nilai komunal kehidupan manusia dari
sudut teologi, antropologi, sosiologi, kosmologi, dan eskatologi.

Semua hipotesis yang dimunculkannya dihasilkan dari
proses falsafi yang niscayanya dilakukan melalui prosedur investigasi.
Perwujudan atas semua realitas tersebut dimunculkan melalui penjabaran (iqra')
wahyu Tuhan yang diterima. Entitas (ummi) yang melekat atas dirinya
tidak menjadi penghalang untuk mengungkapkan kebijaksanaan hakiki yang dapat
dihasilkan oleh "individu" yang ingin belajar.

Dalam tradisi kefilsafatan, Ahmad Hanafi (1996),
menuntut segenap insan akademis mewujudkan semangat membangun rancangan teori
baru atas pembacaan mereka pada teori-teori para filosof terdahulu. Susunan
teoritis keilmuan para filosof yang telah mengawali metode berfikir dijadikan
sebagai bahan acuan semata untuk mengungkap kebijaksanaan kontemporer yang
mengitari kehidupan masyarakat. Hakikatnya, segenap insan akademis harus mampu
menjauh dari tradisi (instant) dalam membangun argumentasi ilmiahnya.
Plagiasi/penjiplakan teoritik harus ditepis untuk menciptakan khazanah keilmuan
semakin progresif dan sinergis.

Secara hakiki, kehadiran para ilmuwan/akademisi
dimandatkan di atas pundak mereka semangat menginvestigasi kebijaksanaan-kebijaksanaan
bagi masyarakat. Penemuan mereka atas semua tuntutan tersebut mustahil dicapai
ketika "mengekor" saja atas pendapat orang lain yang tidak sepenuhnya dapat dipahami
aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi pemikiran tokoh yang dijadikan
acuan. Kenyataan ini secara niscaya tidak mungkin terwujud dalam perilaku para
ilmuwan yang "masih" memijakkan pola-pola pemikirannya di atas pemikiran orang
lain. Tuntutan "nerabas" untuk mencapai keunggulan dan strata pangkat lebih
tinggi menjadi perilaku ilmuwan (self attitude) yang harus dibuang dan
diberanguskan.

Minggu ini, institusi pendidikan Indonesia; SMA, SMK,
MA, SMP, dan MTs melangsungkan Ujian Nasional untuk mengukuhkan siswa dan
siswinya yang berhak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sebuah
nestapa dirasakan bersama ketika fenomena kebocoran soal dan kunci jawaban
Ujian Nasional terjadi di Medan serta Deli Serdang (Kompas, 23/3/2010). Secara
hakiki, kondisi ini mengarahkan para siswa untuk berprilaku menyontek/plagiasi
terhadap prestasi yang harus dicapainya dengan belajar. Para siswa dijejali
dengan konsumsi instan di atas rasa percaya diri mereka untuk melalui Ujian
Nasional dengan kemandirian dan kejujuran.

Sepintas lalu, kemunculan praktik plagiasi/menyontek
menjadi pandangan umum (common sense) yang mungkin diwujudkan guna
membuang kegamangan pribadi (doubtful personality). Optimalisasi sikap
berjuang yang niscaya ditegakkan dalam diri, diendapkan guna meraih kesuksesan
dengan mudah. Sikap percaya diri untuk menjalankan dinamika kehidupan dengan
perjuangan (struggle) tidak dihadirkan sebagai tradisi dan budaya
leluhur yang mulia. Kesalahan persepsi "pasrah" mengikis optimalisasi belajar
untuk meneguhkan masa depan yang berwawasan keilmuan.

Akhirnya, berbagai fenomena plagiasi yang terjadi
dalam potret pendidikan akhir-akhir ini harus menjadi catatan penting untuk
meneguhkan eksistensi para ilmuwan sebagai agent of change (agen
pembaruan).

Artikel ini dimuat pada Kolom Jumat Radar Kudus tanggal, 26 Maret 20010


Link SIM
 
SIPRUS
Sistem Informasi Perpustakaan
SIA
Sistem Informasi Akademik
(Bagi mahasiswa)

 
Download