![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
![]() |
Rabu, 19 Mei 2010 - 11:35:39 WIB JUJUR DALAM UJIAN NASIONAL Diposting oleh : - Dibaca: 100 kali ![]() JUJUR DALAM UJIAN NASIONAL Oleh: Mas'udi, S.Fil.I., M.A. Master Antropologi UGM Dosen Jurusan Dakwah Program Studi Bimbingan STAIN Kudus diterimanya (iqra') yang termaktub dalam QS. al-'Alaq, [95]:1-5, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk membaca semua realitas; alam, manusia, dan Tuhan sendiri dengan sebaik-baik pembacaan. Di atas kondisi dirinya yang (ummi) tidak dapat membaca dan menulis, Nabi Muhammad Saw. berjuang untuk menalar kemudian mengungkap hakikat yang ditemukannya dalam seantero kehidupan manusia. Kandungan QS. al-'Alaq sebagai wahyu pertama yang diterima, diderivasikan untuk melihat nilai komunal kehidupan manusia dari sudut teologi, antropologi, sosiologi, kosmologi, dan eskatologi. Semua hipotesis yang dimunculkannya dihasilkan dari proses falsafi yang niscayanya dilakukan melalui prosedur investigasi. Perwujudan atas semua realitas tersebut dimunculkan melalui penjabaran (iqra') wahyu Tuhan yang diterima. Entitas (ummi) yang melekat atas dirinya tidak menjadi penghalang untuk mengungkapkan kebijaksanaan hakiki yang dapat dihasilkan oleh "individu" yang ingin belajar. Dalam tradisi kefilsafatan, Ahmad Hanafi (1996), menuntut segenap insan akademis mewujudkan semangat membangun rancangan teori baru atas pembacaan mereka pada teori-teori para filosof terdahulu. Susunan teoritis keilmuan para filosof yang telah mengawali metode berfikir dijadikan sebagai bahan acuan semata untuk mengungkap kebijaksanaan kontemporer yang mengitari kehidupan masyarakat. Hakikatnya, segenap insan akademis harus mampu menjauh dari tradisi (instant) dalam membangun argumentasi ilmiahnya. Plagiasi/penjiplakan teoritik harus ditepis untuk menciptakan khazanah keilmuan semakin progresif dan sinergis. Secara hakiki, kehadiran para ilmuwan/akademisi dimandatkan di atas pundak mereka semangat menginvestigasi kebijaksanaan-kebijaksanaan bagi masyarakat. Penemuan mereka atas semua tuntutan tersebut mustahil dicapai ketika "mengekor" saja atas pendapat orang lain yang tidak sepenuhnya dapat dipahami aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi pemikiran tokoh yang dijadikan acuan. Kenyataan ini secara niscaya tidak mungkin terwujud dalam perilaku para ilmuwan yang "masih" memijakkan pola-pola pemikirannya di atas pemikiran orang lain. Tuntutan "nerabas" untuk mencapai keunggulan dan strata pangkat lebih tinggi menjadi perilaku ilmuwan (self attitude) yang harus dibuang dan diberanguskan. Minggu ini, institusi pendidikan Indonesia; SMA, SMK, MA, SMP, dan MTs melangsungkan Ujian Nasional untuk mengukuhkan siswa dan siswinya yang berhak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sebuah nestapa dirasakan bersama ketika fenomena kebocoran soal dan kunci jawaban Ujian Nasional terjadi di Medan serta Deli Serdang (Kompas, 23/3/2010). Secara hakiki, kondisi ini mengarahkan para siswa untuk berprilaku menyontek/plagiasi terhadap prestasi yang harus dicapainya dengan belajar. Para siswa dijejali dengan konsumsi instan di atas rasa percaya diri mereka untuk melalui Ujian Nasional dengan kemandirian dan kejujuran. Sepintas lalu, kemunculan praktik plagiasi/menyontek menjadi pandangan umum (common sense) yang mungkin diwujudkan guna membuang kegamangan pribadi (doubtful personality). Optimalisasi sikap berjuang yang niscaya ditegakkan dalam diri, diendapkan guna meraih kesuksesan dengan mudah. Sikap percaya diri untuk menjalankan dinamika kehidupan dengan perjuangan (struggle) tidak dihadirkan sebagai tradisi dan budaya leluhur yang mulia. Kesalahan persepsi "pasrah" mengikis optimalisasi belajar untuk meneguhkan masa depan yang berwawasan keilmuan. Akhirnya, berbagai fenomena plagiasi yang terjadi dalam potret pendidikan akhir-akhir ini harus menjadi catatan penting untuk meneguhkan eksistensi para ilmuwan sebagai agent of change (agen pembaruan). Artikel ini dimuat pada Kolom Jumat Radar Kudus tanggal, 26 Maret 20010 |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||