Artikel

Teologi Islam Moderat dan Perempuan

Administrator | Jumat, 06 Juli 2018 - 10:56:50 WIB | dibaca: 650 pembaca

Teologi Islam Moderat dan Perempuan
Oleh: Farida

 

Setiap manusia memiliki potensi bawaan yang unik, diperlukan kesadaran mengenali diri sendiri, baik itu kelebihan maupun kelemahan. Termasuk perempuan, yang dilihat dari sisi jender adalah manusia yang memiliki hak dan kebebasan dalam berkeyakinan, ia dapat mempergunakan nalarnya dalam berbagai permasalahan yang dihadapinya, sama persis dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki. Karena, ketidakmampuan mengenali diri sendiri yang akan menjadi penyebab ketidakadilan dalam mengembangkan potensi diri, menyelesaikan masalah bahkan menjadi penyebab konflik dan perilaku radikalisme.

Ditegaskan dalam Islam bahwa perempuan dapat memiliki dirinya sendiri dan menyadari keberadaannya, yang terpenting adalah sebagai hamba Allah dan khalifah Allah Swt di muka bumi. Perempuan bukanlah musuh/lawan laki-laki, demikian sebaliknya, dan keduanya bersifat resiprokal (saling membutuhkan). Islam telah menjadikan perempuan sebagai satu dari dua sisi jiwa yang menyatu (nafs al-wahidah). Perempuan bukanlah separuh lelaki dari segi asal penciptaannya. Allah Swt berfirman dalam Qs. An-Nisa, 4: 1 yang artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya...” (Syarbini, 2013: 6). Maka, kesadaran pribadi yang dimiliki laki-laki dan perempuan akan memposisikan diri sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan sesuai dengan potensi diri dan kemampuan masing-masing dalam aktivitas ibadah dan mu’amalah. Dan perempuan harus menyadari potensi diri untuk menjalankan amanah di muka bumi ini, yakni memiliki kesempatan yang sama dalam bertakwa kepada Allah Swt dan beramar ma’ruf nahi munkar. 

Perempuan adalah sosok yang kerap kali menjadi perbincangan yang tiada habisnya. Sesuatu yang menyangkut perempuan akan terus mendapat perhatian untuk dibicarakan. Pada satu sisi, tidak sedikit orang yang membenci perempuan. Menganggap perempuan sebagai “makhluk kelas dua”, tidak berhak untuk berpendapat, bahkan mengurus dirinya sendiri. Semuanya diatur oleh laki-laki. Di sisi lain, ada orang yang begitu memuja perempuan, hidup seakan mati tanpanya dan segala yang dilakukannya adalah hanya untuk perempuan. Satu hal yang perlu direnungi bersama adalah kelompok yang memuja maupun membenci terkadang melakukan tindakan eksploitasi terhadap keberadaan perempuan. Anehnya, seringkali perempuan tidak menyadari dieksploitasi atau dimuliakan. Sehingga setiap muslim perlu mengetahui bagaimana Islam memperlakukan perempuan (Syarbini, 2013: 5) dengan kemampuan akal yang telah Allah anugerahkan kepada manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan maupun untuk menyelesaikan masalah agar menjadi manusia yang adaptif, yang harus juga dilakukan oleh setiap perempuan untuk memberikan keadilan pada diri sendiri. Perempuan dapat menyadari bahwa dirinya pantas untuk dimuliakan karena mampu berperan dalam aktivitas sosial keagamaan sesuai dengan nilai sosial dan agama. Karena kadang ditemukan perempuan yang memperlakukan diri sendiri tidak adil “merasa tidak mampu” dan ditambah oleh persepsi sosial yang negatif “memandang sebelah mata”.

Kiat-kiat agar menjadi perempuan hebat dan istimewa dengan memiliki: ilmu pengetahuan, penghasilan sendiri, banyak berbagi dengan orang lain, menghiasi dengan akhlak terpuji, menghindari setiap perbuatan dosa, dan memperbanyak doa (Syarbini, 2013: 132). Selain itu, perempuan Islam mendapatkan kebebasan berkeyakinan, berpikir dan memilih yang memiliki sebuah aturan. Karena kebebasan hakiki merupakan ungkapan yang harus dipertanggungjawabkan sehingga menjadi sebuah sistem hukum yang rapi dan membuahkan perbuatan yang baik. Hal tersebut menumbuhkan kesadaran perempuan yang memiliki hak untuk berpendapat, mengaktualisasikan kemampuan diri, bahkan kesempatan yang sama dalam ketakwaan. Kesadaran yang telah dimiliki akan menjadikan perempuan memiliki rasa percaya diri untuk “tampil seirama” dengan laki-laki.

Kerjasama laki-laki dengan perempuan untuk berjuang melawan ketidakadilan. Bagaimanapun juga, keinginan memanfaatkan talenta, energi, dan wawasan orang lain secara penuh perlu menerapkan kesadaran jender untuk mengelola diri sendiri. Definisi masyarakat tentang peran laki-laki dan perempuan, maskulinitas sebagai sesuatu yang dominan, agresif, dan mengontrol. Sedangkan feminitas sebagai kelemahan, submisif dan melayani. Jender merupakan salah satu elemen yang selalu ada dalam setiap konflik meski bukan penyebab konflik, namun perbedaan pandangan mengenai maskulinitas dan feminitas menjadi penyebab konflik dan menentukan cara orang bertikai (Bachman, dkk, 2009: 21). Hal tersebut dapat diminimalisir dengan mengubah persepsi yang salah tentang jender, karena laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan hak dan kesempatan saling membantu “membutuhkan” untuk berkembang, bahkan dalam kegiatan ibadah kepada Allah maupun mu’amalah kepada sesama manusia.

Allah memberikan kepada perempuan hak memilih baik dalam akidah, pernikahan dan semua sisi kehidupan lain. Bahkan perempuan diberikan kebebasan memiliki harta benda, melakukan transaksi jual beli, hibah dan bagian dalam harta warisan. Di dalam Islam, tidak pernah diperbolehkan adanya pengurangan hak/pendzaliman terhadap perempuan demi kepentingan laki-laki, karena Islam adalah syariat yang diturunkan untuk melindungi semua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Hadits Rasulullah: “Ingatlah! Aku berpesan kepada kalian agar berbuat baik kepada perempuan. Karena sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian. Padahal, sedikitpun kalian tidak berhak memperlakukan mereka, kecuali untuk kebaikan itu” (HR. At-Tirmizi). “Apabila seorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya diberi satu kebajikan” (HR. Ahmad). Beberapa hadits tersebut diketahui bahwa Islam adalah agama yang sangat memuliakan dan mengistimewakan kaum perempuan, bahkan dengan tegas, tidak mentolerir sedikitpun tindakan yang meremehkan dan menghina kaum perempuan (Syarbini, 2013: 8). Kesadaran tentang perlakuan Islam terhadap perempuan akan menumbuhkan perlakuan yang adil secara pribadi dan sosial bagi setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Hal tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi manusia, karena secara tidak langsung Islam telah mengajarkan kepada setiap manusia bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Satu-satunya unsur yang membedakan mereka adalah ketakwaan dan amal saleh. Maka semua perempuan dapat menyadari bahwa perlakuan Islam terhadap perempuan adalah kesempatan untuk mendapatkan keadilan pribadi sosial yang menjadikan perempuan tetap istimewa dan hebat dalam segala aspek kehidupan: ilmu pengetahuan, karir, politik, agama dan keagamaan, ekonomi, kreativitas dan lain-lain.