Artikel

Moderatisme Rasulullah SAW. Dalam Beragama Dan Bersikap Terhadap Perempuan

Administrator | Senin, 02 Juli 2018 - 10:13:46 WIB | dibaca: 537 pembaca

MODERATISME RASULULLAH SAW. DALAM BERAGAMA

DAN BERSIKAP TERHADAP PEREMPUAN

 

Umma Farida


Pendahuluan

Keragaman dalam kehidupan merupakan suatu keniscayaan yang dikehendaki Allah Swt. Secara kodrati, keberadaannya tidak dapat disangkal dan dipungkiri terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang secara nyata telah ditakdirkan menjadi bangsa yang terdiri dari berbagai suku, adat istiadat, budaya dan agama.

            Rasulullah Saw. yang diutus Allah Swt. kepada masyarakat Arab pada masa itu pun menghadapi banyak rintangan dan tantangan ketika menyampaikan dakwah Islam. Masyarakat Arab yang kental dengan paganisme dan tradisinya secara perlahan mampu menerima dakwah Rasulullah Saw. yang disampaikan secara humanis, moderat, dan toleran. Oleh karenanya, moderatisme ala Rasulullah Saw. perlu untuk dikembangkan dan diteladani, terlebih beliau adalah teladan terbaik bagi setiap muslim dalam mengimplementasikan ajaran-ajaran agamanya dan membangun relasi sosial antar umat manusia, termasuk dalam bersikap terhadap kaum perempuan.

 

Moderatisme ala Rasulullah Saw.

            Kata moderat sering dipadankan dengan kata wasath atau wasathiyyah, yang memiliki arti tengah, tidak ekstrim ke salah satu pihak. Inilah yang sejalan dengan pengertian QS. Al-Baqarah: 143 bahwa Allah Swt. menjadikan umat Islam sebagai ummatan wasathan, yakni umat yang tengah, terbaik, serta tidak ekstrim.

Moderasi Islam sering disebut dengan al-Islam al-wasath atau wasathiyyah al-Islam. Islam terbaik adalah Islam yang berada di tengah, tidak berlebihan cenderung pada materialisme dan eksoterisme, tetapi juga tidak terlalu mengagungkan esoterisme. Posisi pertengahan dapat mendorong manusia bersikap adil, menjadi teladan, dan menjadikannya dapat melihat siapapun dan dimanapun, serta “agar kamu menjadi saksi (patron) atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (patron) atas perbuatan kamu. Dalam hal ini, M. Quraish Shihab (2005: 1: 346) menjelaskan bahwa kemampuan umat Islam untuk menjadi saksi atas umat yang lain tidak akan bisa terealisasi kecuali jika menjadikan Rasulullah Saw. sebagai saksi yang menyaksikan kebenaran sikap dan perbuatan umatnya terlebih dahulu (baca: umat Islam) dan beliaupun dijadikan teladan  mereka dalam segala tingkah laku.

Rasulullah Saw. sering menegaskan dalam sabdanya bahwa hal terbaik adalah pertengahan atau moderasinya (khair al-umur awsathuha), juga menyebutkan bahwa sikap beragama yang paling dicintai Allah Swt. adalah yang lurus, tidak berlebihan, lagi toleran (al-hanifiyyah as-samhah). Yusuf al-Qardhawi (1998: 260) memaparkan bahwa sikap lurus dan moderat Rasulullah Saw. sering ditunjukkan dalam keseharian beliau yang selalu mengedepankan kasih sayang, serta menyeru pentingnya keseimbangan melaksanakan amal ibadah yang bersifat ritual-individual dan ritual-sosial. Dalam rangka menyeimbangkan ibadah individual dan sosial inilah beliau menekankan untuk mengimplementasikan secara baik dan adil perintah shalat dan zakat. Selain itu, beliau juga menekankan perlunya keseimbangan memperhatikan antara hak-hak Allah Swt. dan hak-hak manusia. Diriwayatkan bahwa suatu waktu, beliau Saw. mendengar ada seorang sahabat bernama Usman ibn Maz’un yang beribadah sepanjang malam dan tidak mau tidur, berpuasa setiap hari, dan tidak mau menikah supaya dapat memaksimalkan ibadahnya kepada Allah Swt., maka beliau pun menegur sahabat tersebut bahwa setiap diri harus bisa bersikap moderat, menyeimbangkan antara ibadah dan kebutuhan manusiawinya (Muslim, 1997: 201). 

Moderatisme Rasulullah Saw. tidak hanya dalam urusan ibadah atau ritual keagamaan saja, melainkan juga dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin masyarakat. Hal ini tampak nyata dari sikap beliau ketika menyelesaikan pertikaian peletakan Hajar Aswad. Masing-masing kabilah berusaha untuk memindahkan kembali Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula hingga hampir terjadi pertumpahan darah. Tatkala Rasulullah Saw. diamanahi untuk menyelesaikan konflik tersebut maka beliau pun mengambil jalan tengah, yakni dengan menghamparkan surbannya dan meletakkan Hajar Aswad ke tengah-tengah sorban tersebut, lalu meminta masing-masing pemimpin kabilah untuk memegang ujung sorban dan mengangkat sorban itu bersama-sama menuju tempat Hajar Aswad diletakkan (Ajid Thohir, 2014: 184).

Demikian pula, Rasulullah Saw. menyadari bahwa pilar pendidikan generasi Islam mendatang tidak hanya dibebankan kepada kaum laki-laki saja, melainkan juga kepada kaum perempuan, maka beliau tidak hanya mengajarkan ilmunya kepada kaum laki-laki, tetapi juga menetapkan hari-hari tertentu untuk memberikan pengajaran kepada kaum perempuan. Hal ini juga menunjukkan sikap moderat beliau Saw.

Tidak hanya itu saja, Rasulullah Saw. juga memberikan ruang gerak kepada perempuan untuk turut berjuang menegakkan agama Islam, seperti kesempatan yang diberikan kepada Nusaibah bint Ka’ab yang menjadi perisai Rasulullah Saw. dalam perang Uhud dan Ummu Haram bint Milhan yang bergelar awwalu mujahidah fi al-bahr (pejuang perempuan pertama di lautan) (Muslim, 1997: 2: 223). Demikian pula, para perempuan diberi kesempatan oleh beliau Saw. untuk berkiprah dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas, sebagaimana yang dilakukan Rufaidah al-Aslamiyyah yang gigih mengobati luka para pejuang dan melayani orang-orang yang menderita sakit hingga dijuluki sebagai awwalu thabibah fi al-Islam (dokter perempuan pertama dalam Islam) (Aba Firdaus al-Halwani, 2003: 228). Juga, asy-Syifa bint Abdillah yang juga pandai mengobati orang sakit dan mahir dalam tulis-menulis, hingga Rasulullah Saw. memintanya untuk mengajarkan kemampuan yang ia miliki kepada para perempuan muslimah lainnya (Abu Dawud, 2001: 391). Ia dikenal sebagai guru pertama tulis-menulis dalam Islam. Ketika masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab, asy-Syifa mengemban amanah sebagai kepala pasar di Madinah.